Established in 1999, Bali Health Foundation, also referred to as Yakeba, is a non-governmental organization with a focus on public health issues. The primary purpose of the organization is to provide outreach and support for individuals in Bali who suffer from alcohol and drug addiction.

Diskriminasi Sampai di Akhir Jasad

| 0 comments

Ilustrasi-Pembunuhan2Denpasar (4/10) Kali ini kita mendengar cerita dari lapangan, cerita ini dialami oleh salah satu staff yang bekerja di Yayasan Kesehatan Bali (Yakeba). Orang Dengan HIV AIDS (ODHA)kerap mendapatkan stigma dan diskriminasi di masyarakat. Seperti cerita Dewa Ayu Sukarmiasih atau biasa disebut Desak yang bekerja sebagai petugas pendamping di Yakeba. Dia menceritakan pengalamannya selama bekerja  mendampingi rekan – rekan yang hidup dengan HIV, dia kerap melihat stigma dan diskriminasi yang terjadi di masyarakat masih terasa begitu kental. Seperti cerita tentang pengalamannya dengan salah satu dampingannya yang merupakan Orang Dengan HIV AIDS, sebut saja namanya A.

Desak pertama kali bertemu dengan si A sekitar tahun 2011. Saat itu kondisi si A dalam keadaan sakit dan pada saat itu juga Desak mulai mendampinginya karena sudah tugasnya mendampingi Orang Dengan HIV AIDS, memberi dukungan secara moril, memberi informasi tentang kesehatan dan sebagai pengawas minum obat agar yang bersangkutan bisa berdaya. “Diajak ngobrolpun enggan, tetapi karena kita sering bertemu baik di rumah sakit maupun di rumahnya setelah dia pulang dari rumah sakit, akhirnya bisa diajak berkomunikasi. Waktu demi waktu, hari demi hari kondisinya membaik jadi kita sudah seperti teman akrab sampai-sampai si A juga bisa memberi dukungan ke teman yang lain yang masih sakit” begitu tutur Desak.

Untuk tetap dapat hidup sehat, ODHA tidak hanya bergantung pada pengobatan saja. Situasi psikososial harus sangat mendukung agar ODHA dapat tetap bertahan hidup selain dengan pengobatan rutin. Pada suatu Waktu si A mulai menghadapi situasi yang tidak baik, terutama dari aspek psikososial. Tingkat stress mulai tinggi dan mempengaruhi motivasinya untuk hidup karena besarnya beban tekanan psikososial yang dihadapinya. Pada waktu ini, si A mengalami keluhan lemas, tidak ada nafsu makan dan tidak bisa menelan makanan.  Karena kondisi si A yang parah, Desak membawa si A ke Unit Gawat Darurat di salah satu Rumah Sakit besar di Kabupaten tempat dia tinggal untuk segera di rawat. Di Rumah sakit tersebut, Si A mendapat Kendala  untuk pengurusan Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM). Karena menurut prosedur JKBM, pasien harus dibawa ke Pusat Layanan Kesehatan (Puskesmas) yang ada dilingkungannya terlebih dahulu untuk mendapatkan surat rujukan untuk dibawa ke Rumah Sakit. Hanya saja situasi itu tidak bisa dilalui karena kondisi yang bersangkutan sangat drop maka dia langsung di bawa ke Unit Gawat Darurat di Rumah Sakit Kabupaten itu. Dan ketika mengurus JKBM, petugas Puskesmas tidak memberikan. Setelah diberi pengertian oleh Desak maka mekanisme tersebut dapat diselesaikan dengan koordinasi langsung antara pihak Puskesmas, Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan setempat.

Si A sempat di rawat selama 8 hari di Rumah Sakit tersebut. Yang menarik di sini teman-teman Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) yang merupakan Kelompok Dukungan Sebaya gabungan dari Yakeba, Yayasan Maha Boga Marga dan Yasasan Spirit Paramacita mau bergiliran menunggu padahal teman-teman ini bukan sanak saudaranya. Akhirnya  si A menghembuskan nafas terakhirnya tepatnya pada hari minggu tanggal 8 September 2013 pukul 10.30 WITA di kamar tempat dia dirawat. Disitupun teman-teman KDS semua datang padahal waktu sudah menunjukkan larut malam.

Sesuai dengan ritual adat Bali, jenazah yang meninggal harus diupacarai dengan pembakaran jenazah (Ngaben). Ternyata hambatan muncul lagi, disitu Desak melihat sangat kentalnya stigma dan diskriminasi terhadap ODHA walaupun ODHA sudah meninggal. Pada saat memandikan jenasah tersebut banyak warga di tempat tinggal si A yang tidak berani memandikan jenazah si A. Cuma ada segelintir saudaranya dan kebanyakan kebanyakan teman –temen KDS yang memandikan jenazah si A karena teman-teman KDS sudah tahu bahwa jenazah ODHA tidak bisa menularkan HIV, sungguh sangat di sayangkan, yang hadir di situ cukup banyak tapi hanya menyaksikan saja.

Desak berharap stigma dan diskriminasi terhadap ODHA bisa dihilangkan. Penting diingat bahwa setelah 4 jam jenazah ODHA meninggal maka virus HIV juga ikut mati beserta inangnya. “Orang dengan HIV AIDS seharusnya tidak mendapat stigma dan diskriminasi seperti ini, apalagi setelah ODHA meninggal”. Kita akan terus memberikan pengertian kepada masyarakat agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi’ kata Desak. Tetapi kami akan selalu mengenang bahwa si A telah berkontribusi banyak dalam penanggulangan HIV. Karena tidak bisa dipungkiri peran mereka sangat penting dalam penanggulangan HIV. Maka perlakukanlah mereka dengan sewajarnya, agar situasi HIV dapat dikendalikan secara bersama.

Oleh Dony Fauzan